Text
SKRIPSI PENGARUH VARIASI JUMLAH ALAT SAMBUNG PASAK KAYU PADA SAMBUNGAN BIBIR LURUS KAYU SENGON
Kayu Sengon pada konstruksi dipilih karena tergolong kayu cepat tumbuh. Kayu memiliki kelebihan pada nilai estetika dan sifat dapat diperbarui, namun kayu memiliki kekurangan seperti ukuran yang terbatas sehingga diperlukan penyambungan. Jenis sambungan paling sederhana adalah sambungan lurus. Sambungan merupakan titik terlemah, sehingga diperlukan alat sambung untuk memperkuat sambungan, seperti penggunaan dowel Jati. Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah dowel Jati yang menghasilkan kuat lentur tertinggi pada sambungan bibir lurus kayu Sengon. Pengujian kuat lentur dilakukan dengan pembebanan dua titik pada benda uji. Acuan dasar yang digunakan antara lain SNI 03-3959-1995 dan ASTM D198-2015. Variasi benda uji adalah penggunaan 2,3,4, dan 5 dowel Jati yang dilapisi lem epoxy PU pada sambungan bibir lurus kayu Sengon. Variabel kontrol yaitu kayu Sengon utuh tanpa sambungan dengan masing masing benda uji berjumlah 5. Pengujian kuat lentur dilakukan di Laboratorium Struktur Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar, Magelang. Hasil rata-rata nilai MoR pada penggunaan 2,3,4, dan 5 dowel Jati berturutturut adalah 4,952 MPa, 5,014 MPa, 6,302 MPa, dan 6,223 MPa. Nilai rata-rata MoE pada penggunaan 2,3,4, dan 5 dowel Jati berturut-turut adalah 928,853 MPa, 1055,842 MPa, 1107,291 MPa, dan 1098,267 MPa. Variasi yang menghasilkan nilai MoR dan MoE tertinggi adalah penggunaan 4 dowel Jati dengan nilai MoR sebesar 6,302 MPa dan MoE 1107,291 MPa. Analisis Anova satu arah menunjukkan jumlah dowel Jati dilapisi lem epoxy PU pada sambungan bibir lurus kayu Sengon memengaruhi pada nilai MoR.
Tidak tersedia versi lain