Text
PAPER JAGUNG DAN LIMBAHNYA UNTUK MAKANAN TERNAK
Untuk mengimbangi meningkatnya industri makanan ternak, penggunaan biji jagung dan dedak jagung cenderung meningkat, karena pertimbangan harga sulit untuk digantikan dengan biji-bijian yang lain.
Produksi total limbah jagung yang meliputi total protein, TNT, BKT dan BOT di Indonesia utamanya di daerah Jawa, Madura dan Bali menduduki urutan kedua sesudah padi.
Nilai gizi biji jagung untuk makanan ternak digunakan sebagai sumber energi, bukan sebagai sumber protein karena nilai energi tercerna dan nutrien tercernanya cukup tinggi dibanding biji-bijian lain.
Karbohidrat biji jagung menduduki 83% dari bahan kering, tapi rendah akan kadar Ca, vitamin A dan riboflavin sehingga untuk ransum ternak perlu ditambah tepung kapur dan premix.
Nilai gizi limbah jagung akan berkorelasi dengan Jumlah daun yang terdapat dalam total biomassa limbah tersebut. Pemanenan jagung muda, baik untuk dimasak atau untuk dibakar akan memberikan nilai gizi lebih tinggi daripada jagung yang dipanen tua.
Pengolahan biji jagung ada 2 macam yaitu pengolahan secara basah (Wet Milling) yang menghasilkan pati dan minyak Jagung dengan hasil samping berupa dedak, bungkil jagung dan bungkil lembaga dan pengolahan secara kering (Dry Milling) tanpa degerminasi menghasilkan oil flaur dan hasil samping berupa hull dan germ sebagai makanan ternak. Pengolahan limbah jagung menghasilkan silase, Hay dan Chop. Permasalahan biji jagung terletak pada komposisi kimia, kadar air dan aflatoksin, ketersediaan musiman serta tingginya harga. Sedang untuk limbah terletak pada ketersediaan secara musiman. nilai gizi rendah dan keracunan.
Jagung dan limbahnya dapat digunakan sebagai pakan ternak potong non unggas, ternak unggas dan ikan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain