Text
PAPER PENYAKIT ANTHRACNOSE PADA TANAMAN KACANG BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DAN PENGENDALIANNYA
Buncis merupakan tanaman yang dikelola berdasarkan pengembangan sumber daya di pekarangan. Buncis merupakan sayuran alternatif karena disamping harganya yang lumayan, juga tahan lama dan tidak cepat rusak seperti sayuran yang lainnya, sehingga bisa menambah pendapatan petani.
Sayuran buncis sangat digemari oleh masyarakat, karena selain rasanya enak juga merupakan sumber protein nabati dan vitamin. setiap 100 gram kacang buncis mengandung protein 2,4 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 7,9 gram, Ca 65 mili gram, phosfor 44 mili gram, besi 1,1 mili gram, vitamin A 630 SI, vitamin B 0,8 mili gram, vitamin C 19 mili gram, air 83 gram, dan bagian dapat dicerna 90%.
Tanaman buncis bukan tanaman asli Indonesia tetapi dari Meksiko Selatan dan Amerika Tengah yang disebut sebagai tempat asal primer, sedangkan Peru, Equador dan Bolivia merupakan tempat asal sekunder. Tanaman di Indonesia adalah introduksi dari kurang lebih 100 nomor/kul-ivar yang berasal dari Australia, nawai dan Belanda.
Hasil varietas buncis lokal, bisa mencapai 16,8 ton buah muda per hektar dan umumnya tidak tahan terhadap penyakit anthracnose, dibanding varietas buncis tegak yang tahan terhadap penyakit anthracnose dan karat.
Penyakit anthracnose pada tanaman buncis bisa me runkan produksi ningga 30%, karena penyakit tersebut leng-ganggu proses-proses fisiologis.
Kacang buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu. Buahnya pendek kurang lebih 12 cm, lurus atau bengkok dan warnanya hijau muda. Ada dua jenis kacang buncis yaitu jenis membelit atau merambat dan jenis tegak. Tanaman buncis ditanam dengan ketinggian 1000-1500 meter di permukaan laut dan untuk dataran rendah 150-300 meter di atas permukaan laut.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain