Text
PAPER BUDIDAYA TANAMAN STEVIA (Stevia rebaudiana, Bertoni M.)
Stevia berasal dari Amambai dan Iquaqu, daerah perbatasan antara Brasil, Paraguay dan Argentina di Amerika Selatan. Sudah sejak dahulu penduduk asli menggunakannya sebagai bahan makanan dan obat. Stevia termasuk tanaman baru di Indonesia dan diintroduksi tahun 1977. Dari daunnya dapat diperoleh bahan pemanis alami dengan kalori rendah dan mempunyai rasa 200-300 kali lebih manis dari sukrosa (gula tebu). Selain juga bersifat nonkarsinogenik. Anggapan tersebut diperkuat dengan pada penduduk Paraguay, Amerika Selatan yang menggunakan daun stevia sebagai bahan pemanis dalam minuman sejak ratusan tahun yang lalu. Stevia sebagai sumber pemanis alami memiliki prospek cerah dimasa datang, mengingat pemanis sintetis seringkali berpengaruh buruk terhadap kesehatan.
Sebagai tanaman hari pendek yang produksinya berupa daun, panjang hari menentukan Iamanya periode pertumbuhan vegetatif. Masa vegetatif yang panjang menghasilkan produksi yang tinggi. Untuk memperoleh pertanaman yang seragam dan berkualitas, stevia tidak dapat bertahan dalam kondisi kekurangan air. Oleh karena itu dalam pengusahaan stevia diperlukan sistem irigasi meskipun penggunaanya hanya terbatas pada musim kemarau. Untuk memperoleh hasil yang tinggi stevia perlu diberi pupuk organik yaitu pupuk kandang kompos disamping pupuk buatan. Stevia tidak bersaing dengan gulma dan cara pengendalian gulma yang baik mannual. Penggunaan secara atau tahan untuk pestisida pemberantasan gulma dan hama penyakit perlu dicegah untuk menghindari terdapatnya residu pestisida di dalam daun stevia yang diolah. Panen tanaman stevia sampai saat ini dilakukan dengan pangkasan. Kualitas steviosida di dalam daun juga ditentukan oleh cara pengeringan disamping klon. Pengelolaan perkebunan stevia memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak, sehingga hal ini merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam rencana pengusahaan stevia.
Di Indonesia, tanaman stevia sudah mulai diusahakan oleh beberapa perkebunan swasta sejak sekitar tahun 1977. Hasilnya selain untuk diekspor, juga memenuhi permintaan perusahaan-perusahaan jamu di negeri. Selain mendatangkan devisa bagi negara, penanaman dapat mengurangi pengangguran sebab dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dalam hubungannya dengan swasembada gula, stevia memungkinkan untuk dikembangkan dan diolah di Indonesia. Gula stevia dapat menggantikan sejumlah gula untuk industri minuman dan makanan kecil dan die serta seluruh pemanis stevia sintetik impor yang dianggap mengganggu kesehatan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain