Text
PAPER PENGENDALIAN PENYEBAB PENYAKIT BECAK DAUN (Alternaria solani) PADA TANAMAN PETSAI (Brassica peckinensis)
RINGKASAN
Tanaman Petsai merupakan salah satu kelompok kubis-kubisan yang termasuk dalam genus Brassica. Tanaman Petsai ini termasuk dalam klas dicotyledoneae, mempunyai sistem perakaran tunggang, batangnya pendek sekali dan beruas-ruas, bentuk daunnya bulat panjang, berdaun lebar dan berkerut-kerut serta membentuk krop, tipe bunganya racemosa dan sifat bunganya hermafrodit.
Sebagai mana seperti tanaman yang lain, Petsai untuk tumbuh dan berkembang dengan baik memerlukan persyaratan tumbuh yang optimal baik mengenai faktor tanah maupun faktor iklim atau faktor lingkungannya. Tanaman Petsai untuk pertumbuhannya menghendaki suhu pada malam hari 15,6 derajat celsius dan suhu pada siang hari 21,1 derajat celsius dengan kelembaban udara antara 60-90 persen dan curah hujan antara 40 60 mm per bulan dan merata sepanjang tahun. Mengenai ketinggian tempat yang optimal agar hasil produksinya dapat tinggi maka penanamannya didaerah dengan ketinggian antara 1000 - 2000 meter diatas permukaan laut. Jenis tanah yang dikehendaki adalah jenis tanah andosol dan latosol, akan tetapi untuk jenis tanah latosol memerlukan pengolahan tanah yang cukup dalam karena jenis tanah ini banyak mengandung liat. Adapun derajat keasaman tanah untuk tanaman Petsai antara 6 -7.
Penyakit becak daun pada tanaman Petsai merupakan penyakit yang disebabkan oleh cendawan Alternaria solani. Daun-daun yang terserang penyebab penyakit ini akan menimbulkan becak-becak kecil berwarna kelabu agak gelap dan berbentuk bulat yang kemudian berkembang dan meluas hingga mencapai diameter satu cm. Berpindahnya penyebab penyakit dapat melalui pemencaran aktif dan pemencaran pasif. Dalam pemencaran pasif berpindahnya penyebab penyakit dibantu dengan perantaraan sisa-sisa tanaman, perantaraan air dan perantaraan angin. Kemudian berkembangnya penyebab penyakit dipengaruhi oleh unsur patogen itu sendiri, unsur tanaman inang dan unsur lingkungan. Unsur lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan penyabab penyakit yaitu kelembababn udara, suhu, unsur hara dan angin.
Usaha pengendalian penyebab penyakit bertujuan untuk mengurangi kerugian ekonomis dan mempertahankan atau menaikkan nilai hasil panen. Pengendalian penyebab penyakit dapat dilakukan dengan cara pencegahan (preventif) yaitu dengan kultur teknik yang meliputi pengaturan drainase dan rotasi tanaman, selain dengan kultur teknik juga dapat dilakukan secar fisik yang meliputi eksklusi dan eradikasi. Sedangkan pengendalian secara kuratif adalah usaha pengendalian atau usaha pengobatan pada tanaman yang telah terinfeksi oleh penyebab penyakit dengan menggunakan zat kimia yaitu Fungisida. Dalam penggunaan Fungisida kita harus memperhatikan cara penggunaannya yang berdasarkan lima tepat meliputi tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat alat dan tepat cara.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain