Text
SKRIPSI KORELASI KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 1 KOTA MAGELANG
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang yang mengalami kesulitan dalam memahami inti bacaan, menemukan kalimat utama, dan menyimpulkan bacaan dengan baik. Selain itu, ditemukan rendahnya motivasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang mengindikasikan lemahnya motivasi sebagai bagian dari kecerdasan emosi. Kurangnya kecakapan emosi berdampak pada konsentrasi dan fokus siswa terganggu, padahal kegiatan membaca memerlukan fokus, konsentrasi, dan kontrol diri yang baik. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui korelasi antara kecerdasan emosional dengan kemampuan membaca pemahaman serta mengetahui seberapa besar pengaruhnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasional dengan metode kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang yang berjumlah 112 siswa. Sampel penelitian ditentukan melalui teknik random sampling dengan 58 siswa. Data dikumpulkan melalui angket untuk mengukur kecerdasan emosional dan tes pilihan ganda untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman. Analisis data dilakukan dengan software SPSS versi 22 dan Iteman versi 3.00. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kecerdasan emosional dengan kemampuan membaca pemahaman dengan status korelasi yang rendah. Hal itu dibuktikan dari hasil uji korelasi product moment dengan nilai rhitung 0,348 yang lebih besar dari rtabel 0,259 sehingga Ha diterima. Sementara itu, kontribusi kecerdasan emosional dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman adalah sebesar 12,1% yang sama artinya dengan 87,9% kemampuan membaca pemahaman dipengaruhi secara dominan oleh faktor di luar variabel yang diteliti. Saran yang diajukan sebagai berikut: bagi siswa, untuk lebih mengenali diri dan evaluasi diri, peduli terhadap sekitar, serta memperluas pergaulan; bagi orang tua untuk menciptakan komunikasi dua arah, kontrol emosi, serta menerapkan batasan tegas; bagi guru untuk membuat kelas demokratis, selalu memberikan umpan balik membangun, mengaktifkan kelas dengan aspek emosional, dan menegakkan aturan konsisten; bagi peneliti selanjutnya untuk lebih mengeksplor faktor yang memengaruhi kemampuan memahami bacaan dan memperluas populasi
Tidak tersedia versi lain