Text
SKRIPSI PERANCANGAN PANJANG DAN TEBAL RUNWAY 03 BANDAR UDARA SOEKARNO HATTA MENGGUNAKAN METODE DESIGN AND MAINTENANCE GUIDE 27, FEDERAL AVIATION ADMINISTRATION, DAN FAARFIELD
Sebagai bandar udara hub di Indonesia dan tersibuk ketiga di Asia Tenggara pada tahun 2024,
Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta memiliki tiga runway untuk memenuhi kebutuhan lalu
lintas udara. Runway 3 Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta dibangun pada tahun 2018
hingga 2020 dengan panjang runway 3000 meter dan hanya berfungsi sebagai tempat pendaratan
pesawat. Panjang runway 3000 meter tersebut diindikasikan menjadi pembatas fungsi dari runway
3. Tujuan penelitian ini adalah menghitung kebutuhan panjang dan tebal perkerasan runway 3
Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta berdasarkan lalu lintas pesawat yang ada pada runway
tersebut.
Penelitian ini berfokus pada analisis kebutuhan tebal dan panjang runway. Analisis tebal
runway meliputi metode Federal Aviation Administration (FAA), Design and Maintenance Guide
27 (DMG-27), dan FAARFIELD 2.1. Analisis panjang runway akan menggunakan metode ICAO
Annex 14. Data yang digunakan untuk analisis adalah data sekunder yang terdiri dari nilai CBR
subgrade dan subbase, annual departure pesawat, dan karakteristik pesawat. Digunakan nilai CBR
subgrade 6% dan subbase 20% dengan proyeksi umur rencana operasi runway 20 tahun (2027
2046).
Hasil analisis menunjukkan kebutuhan panjang runway 3850 meter setelah dikoreksi, dengan
pesawat rencana Boeing 777-300ER. Analisis tebal perkerasan runway metode FAA dengan pesawat
rencana B777-300ER menghasilkan total tebal perkerasan lentur terbesar yaitu 1515,84 mm. Metode
DMG-27 menggunakan pesawat rencana B747-8F dan memiliki 2 tipe struktur yaitu HSBBM dan
BBM. Hasil analisis tipe HSBBM menghasilkan tebal total perkerasan sebesar 675 mm dan tipe
BBM sebesar 825 mm. Metode software FAARFIELD dengan pesawat rencana B777-300ER
menghasilkan total tebal perkerasan lentur sebesar 1231,9 mm. Hasil analisis menunjukkan total
tebal paling besar dihasilkan oleh metode FAA dan diikuti oleh hasil metode FAARFIELD.
Sedangkan, Metode DMG-27 dengan pesawat rencana lebih besar menghasilkan tebal paling kecil.
Hasil klasifikasi runway yang didapat dari analisis adalah 90/F/C/X/T (PCN) melalui metode DMG
27 atau 830/F/C/X/T (PCR) melalui metode FAARFIELD. Selain itu, didapatkan kebutuhan panjang
runway sebesar 3850 meter yang dihitung menggunakan metode ICAO Annex 14
Tidak tersedia versi lain