Text
SKRIPSI PERAN SUTRADARA DALAM PEMBUATAN FILM DOKUMENTER BERJUDUL “WIRAMA LELONO”
ABSTRAK
Film dokumenter Wirama Lelono mengangkat fenomena transformasi budaya tari tradisional melalui kisah Nuryanto, seorang penari jalanan yang menampilkan tari jaranan dan warok di lampu merah Secang, Magelang. Penelitian ini mengkaji peran sutradara dalam memproduksi film dokumenter poetic yang menggambarkan pergeseran fungsi tari dari ritual budaya menjadi strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi. Metode produksi mencakup tiga tahap yaitu, praproduksi dengan konsep Wirama (irama) yang dibagi menjadi empat segmen Wirama Rasa, Wirama Ati, Wirama Piwulang, dan Wirama Kuwasa, produksi dengan teknik sinematografi empatik dan wawancara mendalam, serta pascaproduksi melalui editing naratif dan color grading soft warm. Hasil tugas akhir menunjukkan bahwa dalam film dokumenter Wirama Lelono, makna tari tradisional tetap terjaga meskipun ditampilkan di jalanan, gerak dan busana masih mempertahankan filosofi budaya Jawa, sementara jalanan menjadi ruang negosiasi identitas. Sutradara berperan krusial sebagai penerjemah visual yang menyeimbangkan dokumentasi realitas dengan sensibilitas estetis, membangun empati penonton terhadap perjuangan seniman menjaga warisan budaya di tengah modernitas. Film dokumenter ini menegaskan bahwa komodifikasi budaya bukan sekadar pergeseran nilai budaya, melainkan bentuk adaptasi budaya yang menunjukkan ketahanan seni tradisional di tengah perubahan sosial modern.
Kata Kunci: dokumenter poetic, film dokumenter, identitas budaya, komodifikasi budaya, sutradara, seniman tari jalanan, transformasi budaya
Tidak tersedia versi lain