Text
SKRIPSI ANALISIS WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK DALAM CERPEN “HAWA PANAS” KARYA SILVESTER PETARA HURIT DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI MODUL AJAR TEKS CERPEN KELAS XI SMA
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena praktik korupsi, nepotisme, dan
penyalahgunaan kekuasaan di tingkat desa yang direpresentasikan dalam cerpen
“Hawa Panas” sebagai wacana sastra dengan muatan ideologi dan kritik sosial
politik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dimensi teks, kognisi sosial,
dan konteks sosial dalam cerpen “Hawa Panas” karya Silvester Petara Hurit
berdasarkan model Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk, serta
mengimplementasikan hasil penelitian sebagai modul ajar teks cerpen kelas XI
SMA. Sumber data menggunakan cerpen “Hawa Panas” karya Silvester Petara
Hurit yang dimuat di Kompas.com pada 11 Desember 2022. Data berupa kata, frasa,
kalimat, dan paragraf yang mengandung unsur dimensi teks, kognisi sosial, dan
konteks sosial. Penelitian ini menggunakan metode penyediaan data berupa studi
pustaka, sedangkan tekniknya berupa baca dan catat. Metode dan teknik analisis
data dilakukan melalui teori analisis wacana kritis model Van Dijk. Hasil penelitian
ini meliputi 1) pada dimensi teks, struktur makro menampilkan tema
penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi politik di desa; superstruktur memuat
skematik dari orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, hingga koda, dan struktur
mkiro mencakup elemen semantik, sintaksis, stilistika berupa leksikon, dan retoris
berupa metafora; 2) pada dimensi kognisi sosial, skema person yang
menggambarkan cara tokoh-tokoh memandang tokoh lain dalam relasi kuasa,
skema diri memperlihatkan bagaimana Miten membangun citra pemimpin yang
peduli tetapi sebenarnya manipulatif, skema peran menunjukkan Miten sebagai
penyelamat desa yang berujung pada penindasan, Pastor Paroki sebagai legitimator
kekuasaan, Baba Cung sebagai oligarki ekonomi yang mengendalikan politik dari
balik layar, dan skema peristiwa mengungkap rangkaian peristiwa mulai dari
kampanye hingga penyelewengan dana donasi bencana sebagai puncak
kemerosotan moral; 3) konteks sosial, ditemukan praktik kekuasaan berupa
nepotisme, manipulasi retorika, monopoli ekonomi, kolusi, kontrol institusional,
dan oligarki ekonomi, serta ketimpangan akses antara peguasa dan rakyat yang
tidak memiliki ruang untuk mengawasi jalannya kekuasaan. Selain itu, penelitian
ini dapat diimplementasikan pada pembelajaran di SMA kelas XI Fase F Kurikulum
Merdeka pada materi mengidentifikasi dan mengaplikasikan nilai-nilai kehidupan
dalam teks cerita pendek.
Tidak tersedia versi lain