Text
SKRIPSI KONSTITUEN KONSTRUKSI PERIBAHASA BAHASA INDONESIA; TINJAUAN KATEGORI SINTAKTIS
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola konstruksi peribahasa bahasa
Indonesia yang ditinjau atas dasar teori kategori sintaktis. Data penelitian ini ialah
peribahasa yang bersumber pada buku peribahasa. Maujud data ialah kalimat,
idiom, dan pantun. Penyediaan data penelitian menggunakan metode baca yang
dilaksanakan dengan teknik catat. Analisis data menggunakan metode induksi
(penurunan) dengan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). Penurunan data diperoleh
konstituen. Konstituen ini dianalisis dengan landasan teori kategori sintaktis. Hasil
penelitian ini, kesatu (a) data berkonstruksi kalimat tunggal: (a.i) Itik diajar
berenang.’mengajar orang yang memiliki lebih banyak pengalaman’, konstituen
itik (FN) dan konstituen diajar berenang (FV). Peribahasa Itik diajar berenang.
berpola kalimat tunggal FN-FV; (a.ii) Mulut manis mematahkan tulang. ‘perkataan
lemah lembut dapat melunakkan hati orang’, konstituen mulut manis (FN),
konstituen mematahkan (FV), konstituen tulang (FN). Peribahasa Mulut manis
mematahkan tulang berpola kalimat tunggal FN-FV-FN; (a.iii) Anjing menyalak di
ekor gajah ‘orang lemah hendak melawan orang berkuasa’, konstituen anjing (FN),
konstituen menyalak (FV), konstituen di ekor gajah (FT). Peribahasa Anjing
menyalak di ekor gajah. berpola kalimat tunggal FN-FV-FT; (a.iv) Dua kali dua
empat ‘segala sesuatu dilakukan menurut aturannya’, konstituen dua kali (FN) dan
konstituen dua empat (FNum). Peribahasa Dua kali dua empat. berpola kalimat
tunggal FN-FNum; (a.v) Sampah itu ke tepi juga ‘orang yang hina biasanya tidak
dipandang orang’, konstituen sampah itu (FN) dan konstituen ke tepi juga (FT).
Peribahasa Sampah itu ke tepi juga. berpola kalimat tunggal FN-FT. Hasil
penelitian ini, kedua (b) data berkonstruksi kalimat majemuk: (b.i) Main air basah,
main api hangus, main pisau luka. bermakna khusus ’jangan melakukan pekerjaan
yang berbahaya bila tidak ingin mendapatkan kesusahan’. Data ini terdiri atas tiga
kalimat tunggal. Konstruksi satu berkonstituen main air (FN), konstituen basah
(FV); konstruksi dua berkonstituen main api (FN), konstituen hangus (FV);
konstruksi tiga berkonstituen main pisau (FN), konstituen luka (FV). Peribahasa
Main air basah, main api hangus, main pisau luka. berpola kalimat majemuk FN
FV + FN-FV + FN-FV. Hasil penelitian ini, ketiga (c) maujud data idiom: (c.i) biang
keladi ’orang yang menyebabkan perselisihan’. Konstruksi biang keladi (FN).
Peribahasa biang keladi berpola ideom; (c.ii) sudah masuk angin ‘perihal suatu
perkara yang sudah dicampuri orang lain sehingga tidak benar lagi’. Konstruksi
vi
sudah masuk angin (FV). Jadi, peribahasa sudah masuk angin berpola ideom. Hasil
penelitian ini, keempat (d) data berkonstruksi pantun. Data berkonstruksi (d.i)
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang
senang kemudian. Data ini terdiri atas empat larik dan berima A-B-A-B. Konstruksi
satu berkonstituen berakit-rakit (FV), konstituen ke hulu (FT). Konstruksi dua
berkonstituen berenang-renang (FV), konstituen ke tepian (FT). Konstruksi tiga
berkonstituen bersakit-sakit dahulu (FV). Konstruksi empat berkonstituen
bersenang-senang kemudian (FV). Jadi, konstruksi peribahasa Berakit-rakit ke
hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang
kemudian. berpola pantun. Disimpulkan juga bahwa konstruksi peribahasa bahasa
Indonesia dapat berupa kalimat berstruktur inversi. Karakteristiknya dalam
peribahasa ialah penghilangan FN sebelum FV.
Tidak tersedia versi lain