Text
SKRIPSI KAJIAN PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP DEBIT PUNCAK DI SUB DAS BOGOWONTO MENGGUNAKAN SWAT+
Deforestasi akibat perubahan tata guna lahan di kawasan aliran sungai
meningkat cukup signifikan. DAS Bogowonto adalah DAS kritis di Indonesia yang
mengalami penurunan hutan yang cepat. Perubahan tata guna lahan yang tidak
terencana menyebabkan bencana hidrometeorologi. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap debit puncak di Sub
DAS Bogowonto.
Penelitian ini menggunakan model hidrologi Soil and Water Assessment
Tool Plus (SWAT+) dengan input data hujan dan klimatologi selama 10 tahun
(2015-2024). Data tata guna lahan didapatkan dari Balai Pemantapan Kawasan
Hutan pada tahun 2000, 2024 dan prediksi tata guna lahan masa depan tahun 2048
menggunakan Modules for Land Use Change Evaluation (MOLUSCE).
Kalibrasi dan validasi model SWAT+ menghasilkan nilai R² 0,80, NSE 0,80
dan PBIAS -2,07 yang menunjukkan kesesuaian model berkategori sangat baik.
Penelitian ini menunjukkan hilangnya 0,6 kali luas hutan tahun 2000 pada tahun
2024 akibat alih fungsi lahan menjadi pertanian dan permukiman menyebabkan
lonjakan debit puncak sebesar 1,4 kali dari debit puncak awal. Proyeksi 2048
menunjukkan penyusutan hutan lanjutan sebesar 0,3 kali luas hutan 2024
menyebabkan peningkatan debit puncak 1,025 kali dari debit awal. Skenario
mitigasi berupa reforestasi sebesar 2 kali penurunan hutan antara tahun 2024 hingga
2048 pada pertanian lahan kering dan pertanian lahan kering campur semak terbukti
efektif menekan angka tersebut menjadi 1,015 kali dari debit awal. Skenario ini
menunjukkan reforestasi mengurangi risiko banjir di DAS Bogowonto
Tidak tersedia versi lain