Text
SKRIPSI PENGGUNAAN PASIR LAHAR DINGIN DI KALI PUTIH SEBAGAI AGREGAT HALUS BATAKO
Pasca letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 menghasilkan pasir lahar dingin yang melimpah ruah. Pasir tersebut menjadi solusi cepat untuk membangun perekonomian warga seusai masa mengungsi karena pasir tersedia dengan mudah. Untuk itu peneliti mencoba memanfaatkan pasir lahan dingin sebagai agregat halus batako, dengan membandingkan nilai kuat tekan batako material pasir lahar dingin yang diambil dari Kali Putih, Salam, Magelang dan pasir yang tidak terkena imbas lahar dingin dari Kali Blondo yang terletak di daerah Blondo, Magelang.
Pelaksanaan penelitian dengan cara tahapan meliputi pengujian mutu bahan, pembuatan benda uji, dan pelaksanaan pengujian setelah benda uji berumur 14 hari dan 28 hari. Dari hasil pengujian kuat tekan batako dapat diketahui kuat tekan batako pada masing-masing campuran dengan variasi perbandingan volume 1PC: 8PS: Fas 0,5; 1PC: 8PS: Fas 0,6; 1PC: 8PS: Fas 0,7.
Hasil pengujian mutu bahan pasir yang diambil dari Kali Putih, Salam, Magelang parameter kandungan lumpur, berat satuan, berat jenis, penyerapan air, dan analisa saringan memenuhi syarat PUBI 1982 sebagai bahan pengisi campuran batako. Hasil pengujian mutu bahan pasir pembanding yang diambil dari Kali Blondo terhadap analisa saringan tidak memenuhi syarat PUBI 1982 karena modulus halus butirnya masih di bawah batas minimal 2,2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batako dengan kuat tekan rata-rata tertinggi ditunjukkan pada batako yang menggunakan pasir lahar dingin yang berasal dari Kali Putih Hilir dengan perbandingan volume 1PC: 8PS: Fas 0,6 dengan hasil kuat tekan rata-rata sebesar 82,57 kg/cm², dengan berat benda uji rata-rata sebesar 15,811 kg dan produk batako yang dihasilkan dapat dikategorikan dengan tingkat mutu II.
Kata kunci: Pasir Lahar Dingin, Batako, Kuat Tekan
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain