Text
SKRIPSI STUDI KOORDINASI PENGAMAN GROUND FAULT RELAY DENGAN RECLOSER PADA FEEDER 20 kV PWO. 2 DI GI. 150 kV PURWOREJO
ABSTRAK
Indikator mutu pelayanan tenaga listrik ke konsumen adalah tegangan dan frekuensi. Standar variasi untuk tegangan tinggi kurang lebih 5 persen Vn, tegangan menengah lebih 5 persen sampai 10 persen Vn, tegangan rendah lebih 5 persen sampai 10 persen Vn, sedangkan untuk frekuensi kurang lebih 1 persen fn. Pasokan tenaga listrik ke konsumen sangatlah diutamakan kontinuitas penyalurannya. Kontinuitas penyaluran tersebut bisa terganggu oleh adanya gangguan yang terjadi pada jaring distribusi 20 kV, baik itu gangguan permanen maupun non permanen. Berdasarkan statistik gangguan, mayoritas gangguan yang terjadi pada jaring distribusi 20 kV di Indonesia adalah gangguan arus lebih, salah satunya gangguan arus lebih hubung singkat fasa ke tanah non permanen/temporer, untuk mencapai kontinuitas penyaluran tenaga listrik yang andal salah satunya bila didukung olch sistem pengamanan yang benar dan andal pula.
Gangguan yang menimpa jaring tenaga listrik 20 kV umumnya disebabkan oleh pohon, hewan, dan lain sebagainya yang kejadiannya relatif sebentar, saat jaring terkena gangguan fasa ke tanah arus yang mengalir lewat trafo arus (CT) melebihi arus setting rele hubung tanah, pada saat itu juga kontak rele hubung tanah (GFR) bekerja meng-energize tripping coll akibatnya PMT trip, saat yang bersamaan pula recloser mendapat tegangan positif dari rangkaian tripping coil, akibat mendapat input tegangan positif menyebabkan elemen DT (dead time delay element) start, selang beberapa saat elemen DT akan menutup kontak dan memberikan perintah masuk ke PMT, pada saat yang sama juga meng-energize elemen BT (blocking time delay element). Elemen BT ini segera membuka rangkaian closing coil PMT sehingga PMT tidak bisa reclose, setelah beberapa waktu sesuai setting-nya elemen BT akan reset, bersamaan itu pula elemen DT dapat bekerja kembali siap untuk melakukan reclose lagi.
Recloser yang terpasang dipanel kontrol utama feeder maupun yang dijaring distribusi pada prinsipnya sama, perbedaannya pada jenis dan besaran arus yang memberikan perintah rele tersebut bekerja. Recloser yang dipanel kontrol utama Feeder 20 kV PWO. 2 GL 150 kV Purworejo merupakan jenis single-shot recloser (satu kali reclose) dan hanya diperbolehkan bekerja oleh arus gangguan hubung singkat fasa ke tanah, sedangkan yang di jaring distribusi merupakan jenis multy-shot recloser (lebih dari satu kali reclose) dan bekerja oleh arus gangguan hubung singkai fasa ke tanah maupun antar fasa.
Koordinasi antar rele pengaman tercapai bila penyetelan relenya cermat dan akurat dengan didukung oleh perangkat proteksi (CT, PT, rele bantu, PMT, pengawatan (wiring), sumber arus AC/DC) yang andal pula. Hal yang perlu dipertimbangkan pula dalam menetapkan koordinasi proteksi sistem adalah keamanan peralatan, keamanan sistem dan kebutuhan konsumen, sehingga penyetelan rele harus merupakan kompromi ketiga hal tersebut.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain