Text
PAPER PENGENDALIAN PENYAKIT SCAB (Streptomyces scabies) PADA TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum)
Tanaman kentang merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu, batangnya agak keras dan persegi, akan tetapi tidak begitu kuat. Umbinya berbentuk bulat sampai oval. Tanaman kentang mempunyai syarat-syarat tertentu untuk pertumbuhannya. Panjang penyinaran mempengaruhi kecepatan terbentuknya umbi. Dengan meningkatnya intensitas cahaya yang diterima tanaman akan mempercepat proses terbentuknya umbi dan waktu pembungaan. Suhu yang diperlukan untuk fotosintesis antara 18 derajat Celsius sampai 25 derajat Celsius dan optimum pada suhu 20 derajat Celsius. Kelembaban udara yang baik antara 80 persen hingga 90 persen. Sedangkan curah hujan antara 200 mm sampai 300 mm tiap bulan. Untuk tanah yang baik bagi tanaman kentang dengan pH antara 5,0 sampai 5,5.
Rendahnya produktifitas rata-rata kentang di Indonesia bila dibanding negara sub tropis disebabkan antara lain: adanya perbedaan panjang hari, adanya serangan berbagai macam penyakit, pengendalian hama dan penyakit yang kurang sempurna. Satu faktor lain yang sangat penting untuk berhasilnya suatu produksi yaitu penyedian mutu bibitnya.
Salah satu penyakit yang dapat menurunkan produksi kentang yaitu penyakit scab yang disebabkan bakteri Streptomyces scabies. Gejala tanaman ya yang terserang akan menampakkan adanya sisik dan bisul-bisul bergabus pada permukaan umbi. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh pada penyebaran penyakit scab yaitu bibit, suhu tanah, reaksi tanah, kelembaban tanah, angin dan air.
Pengendalian penyakit scab dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu secara preventif dan curatif. Cara preventif meliputi kultur teknis yang terdiri dari rotasi tanaman, sanitasi, pemupukan, drainase. Penggunaan Varietas yang tahan hama dan penyakit, penggunaan bibit yang baik dan sehat, karantina. Sedangkan secara curatif dengan menggunakan bakterisida.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain